Bener2 kalimat judul ini yang mengungkapkan keajaiban yang Allah berikan kepadaku saat mendaftar beasiswa Tanoto Foundation. Jujur, aku tidak menyangka aku lolos sampai tahap wawancara. Aku kira sejak seleksi berkas aja aku udah nggak diterima. Simak ceritanya berikut.. (kalau mau
)
Bermula dari pendaftaran beasiswa Tanoto. Aku masih inget tahun lalu aku ingin mengikuti beasiswa ini. Namun tidak jadi karena bertengkar dengan kakak. Maka tahun ini pun aku mendaftar dengan setengah hati, namun menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Dan aku tidak ingin memberitau kakakku mengenai masalah pendaftaran beasiswa ini.
Seleksi pertama adalah seleksi berkas secara online. Kita harus mendaftar di web resmi beasiswa tanoto. Kemudian, kita mengirim berkas-berkas yang telah discan. Nah, saya yang males mengeluarkan uang buat scan berkas-berkas lalu mencari ide agar nggak keluar uang. Akhirnya berkas-berkas itu saya foto dengan camdig teman sekamar, lalu saya kecilkan size file2 foto tersebut. Hahaha.. asyik kan? Hemat duit..
Di salah satu seleksi itu dikatakan harus fotocopy transkrip yang dilegalisir. Dengan tengilnya saya memfoto transkrip asli saya dan mengirimnya ke web tersebut.
Di malam hari terakhir pengiriman berkas online, saya baru mengirim berkas-berkas saya. Ternyata teman saya, juga baru mau mengirimnya. Kita sempat chat di FB.
Dia bilang (A) : Na, lu udah ngirim berkas?
Saya : Udah, barusan. Tapi nggak saya scan. Saya pake foto. Lu pake scan?
A : Iya.. habis 11 rb nih gw buat ngscan.
Saya : (dalam hati) 11 rb udah bisa buat beli sate 1 porsi.
dst..dll..
Di hari pengumuman..
Nuzula Saadatul M lolos ke seleksi psikotes dan diskusi group.
Lho? Kan sebenarnya saya udah nggak layak lolos. Disuruh pake scan, pakenya foto. Disuruh pake fotocopy transkrip, malah pake transkrip asli. Kog teman saya ada salah 1 yang gag lolos? Padahal kan dia memenuhi persyaratan. IPK dia diatas 3, pake scan, pake fotocopy transkrip. Saya? Nggak tau ahh..
Di hari psikotes dan diskusi kelompok..
Di sesi tanya-jawab..
Ada yang bertanya : Kalau saat online kita mengirimnya transkrip asli gimana?
Deg.. kog sama kayak saya sihh? Tambah nggak tenang lagi ketika ngedengar jawaban dari pihak tanotonya.
Beliau bilang : Pihak tanoto tidak pernah meminta mengirim transkrip asli. Verifikasi itu harus sesuai aslinya. Jika tidak sesuai dengan aslinya, tanggung saja sendiri.
Deg.. jawaban dengan bahasa seperti itu udah mengisyaratkan bahwa yang ngelamar online pake transkrip asli dan verifikasi pake legalisir, nggak bakalan lolos ke seleksi selanjutnya. Jiaahhh… akibat ketengilan saya, ternyata semua harus berakhir di sini.
Usai sesi tanya jawab diadakan psikotest. Jujur, saya males banget psikotes. Tapi, entah kenapa kali ini saya fokus dan sabar ngerjain soal-soal itu. Hihihi.. tau nggak kenapa saya males psikotest?
Hal itu karena hasil psikotest saya yang sebelumnya saya dinyatakan hampir idiot. Ngakak…
Bayangkan aja.. IQ saya cuman 91. Tapi yang anehnya daya tangkap saya baik sekali, nyaris sempurna -.-”
Lalu, kalau IQ saya 91, nilai2 yang saya dapatkan selama ini sangat ajaib dong?? Kata teman saya, “berarti kamu orangnya rajin, Na. “
Rajin dari mana cobaa.. saya tuh. Saya tu cenderung pemalas. Di kelas tidur mulu, di psikotest aja ketekunan dan motivasi agak rendah. Nah lhoo..
Tau ahh…
Dan di diskusi kelompok, saya cenderung pendiem. Soalnya saya cenderung nggak bisa ngobrol dengan orang lain yang nggak saya kenal sebelumnya.
dan di hari pengumuman…
Nuzula Saadatul M lolos ke seleksi wawancara
Lho?? bukannya saya nggak lolos verifikasi berkas?? Kog saya bisa lolos dari maut psikotes dengan IQ 91 ke seleksi wawancara? Lalu teman saya yang berkasnya benar, masa dia nggak lolos psikotes sih? Secara IPK dia jauh di atas saya >.<
Ya sudahlah.. memang Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk bersungguh-sungguh. Dengan begini, saya tersadar.. semua itu atas kehendak Allah semata. Dan kita tidak boleh mendustakan nikmatnya. Maafkan saya jika selama ini kurang bersyukur, ya Allah.
*cerita di atas bukan untuk membanggakan diri >.<
*soalnya ini blog pribadi dan jarang yang mampir ke sini.